Showing posts with label VattiMuttips. Show all posts
Showing posts with label VattiMuttips. Show all posts

Sunday, August 25, 2013

[VattiMuttips]: Bibit Rezeki Vs Kuliah.

Anak, adalah rezeki yang tak terkira dari Allah, yang kedatangannya juga diiringi garis rezeki yang akan terus mendampinginya selama hidup di dunia. Boleh saja pasangan muda (yang masih kuliah) berusaha untuk menunda kedatangan sang buah hati dengan berbagai metode alami. Tapi percayalah, apabila usaha menunda diganti oleh Allah dengan sebuah pembuahan, hal tersebut patut disyukuri sepatut-patutnya. Pasalnya, di luar sana masih banyak sekali pasangan yang belum juga dikaruniai rezeki tersebut.

Pertanyaan yang sering muncul dari orang lain ketika salah satu pasangan muda dikaruniai bibit rezeki tersebut biasanya sama:

1. Kuliah tetap lanjut atau berhenti?
2.  Kalau lanjut, nanti ada masa-masa mesti cuti kuliah dong?
3. Emang udah siap punya anak?

Ya, mungkin itu 3 dari sekian banyak pertanyaan “ah-masa-sih” yang dilontarkan orang-orang disekeliling kita, termasuk orang tua kita sendiri.

Kawan, kondisi ini sekarang sedang kami alami. Alhamdulillah, saat ini Allah sedang menitipkan amanah di dalam perut Adek Retno. Kurang lebih usianya sudah mencapai angka 7 minggu. Dan luar biasanya perhatian dari lingkungan sekitar yang kerap penasaran.

Satu hal yang kami yakini: “Allah tak mungkin membebankan cobaan di luar batas kemampuan umatnya.”
Lho? Kok cobaan? Ya... Bagi kami setiap Rezeki yang datang pasti sepaket dengan resiko, kawan. Itulah yang mungkin menyebabkan di  saat yang sama nikmat adalah cobaan. So, dengan logika demikian, tak mungkinlah Allah menitipkan rezeki pada umatnya apabila mereka tak mampu menanggungnya. Jadi, kami yakin Allah yakin dengan kemampuan dan kesiapan kami menerima amanah luar biasa ini. Awalnya kami memang tak siap, tapi karena yakin bahwa Allah menganggap kami siap, kami menjadi siap. Hehehe

Lalu, bagaimana dengan studi? Perlukah cuti?

Pada dasarnya kondisi emosi dan fisik ibu hamil harus tetap terjaga. Usahakan pikiran positif tetap menguasai diri. Yah, hitung-hitung ikut menanamkan mental positif juga pada sang buah hati. Kondisi jiwa ibu sehat, bayi selamat. Dan untuk menjaganya, bisa disiasati dengan tidak mengambil sks terlalu banyak. Seperti yang dilakukan mba Suranti (Sastra Indonesia 2010, Istri mas Mujahidin Alfaruqul Adzim, yang juga teman seangkatannya).

Tapi, jika kamu misalnya mesti tetap mengambil sks maksimal (berhubung sudah dipaketkan), tetaplah jalani. Why? Ya... awalnya juga kami ragu, tetapi setelah menyaksikan video ini kami jadi yakin bahwa hamil adalah salah satu bukti sehatya seseorang.

So, atas izin Allah, kami akan terus kuliah tanpa cuti. Karena kami yakin, hamil bukanlah halangan untuk tetap sehat beraktivitas (Kecuali kalau kondisi badan sudah tak bisa diajak kompromi. Hehehe)

See you next time.


Salam Cinta Penuh Kreativitas
VattiMutti.

Monday, August 12, 2013

[VattiMuttips] Ini Kebutuhan!



Ditulis oleh: Abang @KhrytMohamad

Kawan, selamat pagi. Semoga harimu semakin hidup dalam menyusun langkah menuju penjemputan setengah agama.

Pagi ini ingin kubagikan lagi tips dengan wawasan terbatas yang kupunya. Dulu, aku sempat membaca sebuah artikel (maaf, aku lupa menempelnya di dinding ingatan darimana artikel itu berasal) yang mengungkap bahwa ucapan “I Love You” di pagi hari dari/untuk pasangan akan mengubah mood seharian penuh. Lebih bergairah, lebih bersemangat. Tambahan: itu hasil penelitian.

Kini, dengan izin-Nya, aku bisa merasakan ada benarnya penelitian itu. Alhamdulillah langsung dari dan untuk pacar halal seumur hidup. Bayangkan, pagi hari saat engkau membuka mata, seorang bidadari menyambutmu dengan tatapan yang menyejukkan hati dan senyuman yang menghangatkan semangat. Lalu, secara perlahan dan lembut ia ucapkan “I Love You”. Dan tanpa dikomandoi, ucapan itu akan sigap merasuki otakmu dan mengguncang-guncangkan syaraf sadar dan kebahagiaan. Ucapan itu akan memaksamu juga untuk menggerakkan mulut, mengucapkan hal yang sama dengan ditambah kata “juga”.  Itu akan menjadi salah satu jenis pemaksaan yang kau suka, kawan. Percayalah.

Ini ucapan yang bebas engkau ucapkan kapanpun kawan, kau tak kan pernah bosan. Ada sihir tersendiri dari Tuhan yang membuat ucapan ini ajaib dan berkhasiat. Ini narkoba yang bebas diberikan dan dikonsumsi kapanpun, tak akan ada istilah overdosis di dalamnya. Tapi, apabila aku boleh berpesan, ucapkanlah ini pada saat bangun tidur, sebelum beraktivitas, sebelum dan sesudah berpisah jarak, dan sebelum tidur. Energi ajaib akan kau dapatkan.

“Ah, saya orangnya nggak romantis. Nggak biasa sama yang begituan.”
Saranku, biasakanlah, kawan. Sungguh, ini kebutuhan.

“Pasangan saya bisa paham kalau saya mencintai dia. Tak perlu diucapkan.”
Mungkin ya, ia paham. Engkau lebih mengerti pasanganmu. Tapi terkadang, tindakan saja tak cukup, ucapan ada sebagai pemanis alami yang dibutuhkan hati.

Satu hal lagi yang ingin kusampaikan, coba terkadang tanyakan apa yang diinginkan olehnya. Lalu, jangan berikan langsung. Tunggu sampai ia lupa, baru berikan. Seperti halnya yang pernah kulakukan dulu pada Adek (Panggilan sayangku untuknya, mungkin dalam waktu dekat akan menyandang status “bunda”) Beberapa hari sebelum menikah, sempat kutanyakan suatu hal padanya.

“Re, suka bunga mawar?”

“Suka.”

“Warna apa sukanya?”

“Putih, emang kenapa, Ri?”

“Nggak, papa, makasih ya...”

Percakapan semacam itu akan membawa dirinya secara tidak langsung berada dalam penantian. Jangan-jangan mau dikasih dalam waktu dekat. Mungkin kurang lebih begitu yang akan dipikirkan.
Waktu akad pernikahan tiba. Tidak, kawan, aku tak membawa mawar putih itu saat akad. Sengaja. Lebih tepatnya, aku tak menemukan setangkai mawarpun. Waktu terus bergulir hingga menyentuh angka 2 pekan. Tepat pada saat itu, secara kebetulan di perpus pusat ada yang menawarkan padaku setangkai mawar putih dengan tebusan uang sumbangan berapapun. Kurasa tak ada salahnya menepati “janji-yang-terlupa”. Kusembunyikan di balik punggung dan kukejutkan dirinya.

“ini, mawar yang waktu itu abang janjiin.” Ia hanya bisa tersenyum tanpa kata. Benar benar dibisukan oleh perasaan senang yang mengawan. Senyumnya jelas bukan buatan, matanya berkaca-kaca memantulkan kesenangan yang ada di dalam hati sana.

“abang... inget?” tanyanya tergagap-gagap.

“ya... pura pura lupa sebenernya.” Tawa renyah mengakhiri kalimatku. Sebuah kalimat yang seolah menyimpan rencana yang sudah dipersiapkan sejak lama.

Kawan, ungkapan kasih sayang dalam bentuk ucapan dan tindakan bukanlah hal yang membuatmu menjadi terlihat tak jantan.  Keduanya ada untuk membuat pasanganmu jatuh sejatuh jatuhnya. Jatuh dalam samudra cinta yang luas....setiap hari.

-Salam Cinta Penuh Kreativitas-
 

Ps: untuk lanjutan kisah nikah, akan kuberikan nanti malam :D

Saturday, August 10, 2013

[VattiMuttips] Kami ingin membentuknya, Generasi Ingat Mati



Ditulis oleh: Abang @KhrytMohamad

Sebelumnya, berikan maafmu pada kami kawan. Kami alpha dalam memperbaharui isi blog ini. Pagi ini akan kuceritakan hal yang baru saja mengubah total kehidupan kami. Sebuah kalimat yang kuingat: "Orang yang paling cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan untuknya." untuk penjelasan lengkap, kau bisa melipir ke tautan ini, kawan.

Kalimat tersebut awalnya hanyalah sebuah kalimat mutiara bagiku. Namun kini, benar-benar terasa berbeda. Ramadhan silam, aku dinobatkan sebagai pengisi pelatihan perencanaan hidup di Pesantren Kilat SMAN 54. Entah kenapa, untuk pertamakalinya aku memasukkan perihal kematian. Ya, kurang lebih begini kawan. Hidup kita Cuma kurang lebih 60-70 tahun, dan waktu yang singkat tersebut akan menjadi bekal untuk kehidupan abadi kelak di akhirat (setidaknya ini yang kupercaya sebagai muslim). Tetapi apa benar Cuma 60-70? Bisa jadi kurang, bisa jadi bulan depan, esok, atau sejam kemudian kita tiada berdenyut nyawa.

Ah, sungguh kawan, awalnya aku merasa hanya sedikit gemetar saat menyampaikan itu dihadapan adik-adik 54. Namun, keduakali, tigakali, empatkali, dan limakali tidaklah sama. Gemetar tersebut menjelma menjadi ketakutan yang akut.

“Bisa jadi..... abang.... sejam ke..mudian...” sulit bagiku melanjutkan kalimat ini. Berat, terasa benar-benar akan dijemput oleh “pembawa death-scythe”. Hatiku terisak pedih, ternyata itu pula yang dirasakan beberapa adik di sana.

“Karena itu, teman-teman...” kesimpulan mulai kulayangkan perlahan, “Apabila kita senantiasa mengingat kematian yang masih misteri ini, kita akan melakukan yang terbaik.”

Materi yang terus kusampaikan itu perlahan terinternalisasi, menari mari di dalam pikiran, meminta perhatian. Belum usai tariannya, aku kembali ditimpali pesan kematian:

Ini, kawan.

Video tersebut sungguhlah tak kupikirkan sebelumnya, hanya sebuah tontonan acak. Namun, hadir di saat yang tepat. Ia hadir di kala tarian kematian mulai kelelahan, ia hadir sebagai musik penyemangat sehingga tak bisa kututup panggung pikiran. Sang penari memaksa untuk terus ditonton.

Jadilah tercipta sebuah keinginan unik: ingin terus membahagiakannya, tak ingin berpisah jarak dalam keadaan bersalah atau belum memberikan sentuhan maaf. Ingin terus dzikrullah, ingin terus dzikrulmaut. Terus sampai ia benar-benar tiba.

Seperti tadi malam kawan, aku berpesan kepadanya sebelum tidur:

“Dek, kalau kiranya nanti abang gabisa dibangunin untuk tahajud, jangan panik, solat aja lebih dulu, setelah itu baru urus abang. Dan tetap solat tepat waktu, sholat dhuha, dan sedekah.” Lalu kukecup keningnya seraya berkata, “i love you, dek”. Kaa-kata tersebut betul kuucapkan dengan perasaan seolah akan tiada.

Tahu bagaimana responnya, kawan? Ia menangis terisak-isak. Mungkin terbayang betul bahwa aku suatu saat nanti hanya akan tersisa raga dan nyawa. Tapi imbasnya, kawan. Luar biasa! Tidur kami yang luar biasa nyaman diawali witir terlebih dahulu. Keinginan untuk tahajud menjadi membatin. Kuat sekali. Alasan kami satu: tak ingin kami menghadapNya sebagai nyawa kelak dalam kondisi belum beribadah, wajib maupun sunnah.

“Kita mesti terus mempersiapkan diri, dek. Karena memang, akan tiba saatnya percakapan kita ini menjadi kenyataan.”

“iya, bang.”


Kami pun terlelap dengan hati yang tenang.